Pages

Selasa, 20 Februari 2018

Dwi Novita Sari dan Suci Ramadhani Telah Menerima Beasiswa Bulan Februari 2018

IMG_8550[1]

Dwi Novita Sari, Penyerahan bantuan biaya sekolah untuk Dwi Novita Sari bulan Februari 2018

Siapakah Dwi Novita Sari? Bagi yang belum mengetahuinya bisa dibaca disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2017/07/bersemangatlah-untuk-terus-bersekolah.html Anak lain penerima bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp adalah Suci Ramadhani, baca tentang Suci disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2018/01/inilah-penerima-beasiswa-dari-tunas.html Ya, mereka berdua adalah seorang anak yang bersemangat untuk bersekolah. Meski berasal dari keluarga kurang mampu, namun mereka tergolong anak yang pintar disekolahnya.

IMG_8551[1]

Suci Ramadhani, penyerahan bantuan biaya sekolah untuk Suci di bulan Februari 2018

Seperti yang telah saya sampaikan diartikel-artikel sebelumnya, bahwa Novi (Dwi Novita Sari) dan Suci (Suci Ramadhani), setiap bulannya mereka meneri bantuan biaya sekolah atau lebih mudah dibilang “Beasiswa” dari Tunas Bangsa Camp sebesar Rp. 125.000;. Uang ini dipakai untuk membeli peralatan serta perlengkapan sekolah. Atau bisa juga dipakai untuk uang saku sekolah harian.

IMG_8552[1]

Suci Ramadhani, uang bantuan biaya sekolah yang diterima Suci setiap bulan adalah sebesar Rp. 125.000; (Februari 2018)

Untuk kesekian kalinya, saya katakan bahwa Tunas Bangsa Camp bukanlah sebuah Foundation, masih jauh dari kata “Foundation”. Ini adalah sebuah langkah kecil dari saya dan suami untuk membantu anak-anak desa yang selalu bersemangat sekolah, pintar, namun berkekurangan secara ekonomi/ berasal dari keluarga kurang mampu. Kenapa kami mengambil langkah ini? Karena kami percaya, saya percaya, sekolah adalah sebuah paspor untuk mendapatkan kehidupan yang lebih dimasa depan. Kami ingin anak-anak desa berkekurangan ini terus sekolah, dan menggapai impian mereka dimasa depan.

Impian? Ya, meskipun berasal dari desa, tapi bermimpilah setinggi bintang diangkasa. Jangan pernah takut untuk bercita-cita tinggi meski kita berasal dari keluarga tidak mampu, tidak punya uang untuk sekolah. Tekunlah belajar, fokus, dan selalu bersemangat untuk terus sekolah apapun yang terjadi, kelak  impian/ cita-cita itu pasti akan tercapai.

CWWJ2885[1]

Dwi Novita Sari, Uang yang diterima setiap bulan oleh Dwi adalah sebesar Rp. 125.000; (Februari 2018)

Dibulan Februari 2018 ini, Dwi Novita Sari dan Suci Ramadhani telah menerima bantuan biaya sekolah yang disalurkan oleh kawan kami Riche Mai Andriani, tepatnya pada tanggal 16 Februari 2018. Kawan kami, Riche, inilah yang setiap bulan mendatangi rumah Dwi Novita Sari dan Suci Ramadhani. Ya, tanpa bantuan Riche, mustahil bagi kami untuk menjangkau anak-anak seperti Novi (Dwi Novita Sari), dan Suci (Suci Ramadhani). Karena kami berdomisili di Luar Negeri. Terimakasih ya Riche…

Mudah-mudahan Dwi Novita Sari dan Suci Ramadhani makin bersemangat sekolah, dan rajin belajar. Semoga mereka bisa meraih impian mereka dimasa depan, serta menikmati kehidupan masa depan yang lebih baik. Amin… Co-Founder Tunas Bangsa Camp, Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Note:

  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Riche Mai Andriani
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse these photographs anywhere else without permissions

Sabtu, 27 Januari 2018

Inilah Penerima Beasiswa Dari Tunas Bangsa Camp di tahun 2018

IMG_7998[1]

Suci Ramadhani beserta ibunya dirumahnya. Photographed by Riche Mai Andriani

Mengawali tahun 2018 ini, kami dari Tunas Bangsa Camp akan terus berkomitmen untuk memberikan bantuan sekolah bagi anak anak didesa, berasal dari keluarga kurang mampu, namun memiliki semangat sekolah. Dan diawal tahun ini, ada seorang anak lagi yang menerima beasiswa (bantuan biaya sekolah) dari kami.

Bernama Suci Ramadhani, kelahiran 20 September 2008. Seorang anak perempuan kelas 3 SD (Sekolah Dasar), bersekolah di SD N 1 Ngestikarya, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung-Indonesia. Menurut kawan kami kami yang selalu membantu menyalurkan bantuan, Suci adalah muridnya dulu sewaktu masih diangku sekolah Taman Kanak-Kanak atau TK. Meskipun berasal dari keluarga kurang mampu, namun Suci adalah salah satu anak yang pintar disekolah. Orang tua Suci bernama Supangat, ayahnya, sementara ibunya bernama Herlina. Penghasilan orangtua Suci perbulannya sekitar Rp. 500.000;.

Dimulai bulan Februari 2018 (bulan depan), setiap bulannya Suci akan menerima bantuan sekolah (Beasiswa) dari Tunas Bangsa Camp sebesar Rp. 125.000;. Uang ini digunakan untuk membeli perlengkapan/ peralatan sekolah Suci, bisa juga dipakai untuk uang saku Suci. Dengan begitu kami berharap bisa meringankan sedikit beban orangtua Suci. Kami tahu sekolah negeri sudah gratis. Namun dalam kenyataannya, masih banyak keperluan sekolah yang harus dibeli/ dipenuhi sendiri, seperti tas sekolah, sepatu sekolah, seragam sekolah, buku sekolah, pensil/pena, serta jika ada les maka harus membayar sendiri. Dan untuk memenuhi kebutuhan itu semua bukanlah hal gampang bagi mereka para orangtua yang memiliki penghasilan rendah setiap bulannya. Oleh, karena itu kami berusaha membantu.

Kami, Tunas Bangsa Camp bukanlah sebuah organisasi, juga bukan sebuah Foundation. Masih terlalu jauh dari kata “Foundation”. Ini adalah sebuah inisiatif dari saya dan suami untuk membantu anak-anak didesa yang kurang mampu secara ekonomi, namun memiliki semangat sekolah. Kami ingin mereka terus bersekolah, menggapai impian dan cita-citanya dimasa depan, serta bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Sekolah adalah passport untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dimasa depan. Percayalah, karena saya sendiri sudah membuktikannya.

Semangat terus untuk Suci, rajin belajar, semangat pergi kesekolah, belajar ilmu dari bapak/ Ibu guru disekolah. Walau terasa berat, dan apapun yang terjadi, teruslah bersekolah!

Terima Kasih selalu saya ucapkan untuk sahabat serta rekan kerja kami Riche Mai Andriani yang telah membantu kami untuk mencari anak-anak yang butuh dibantu, serta membantu kami menyalurkan bantuan setiap bulannya. Mudah-mudahan berkah selalu menyertai Riche dan keluarga.

Salam hormat saya, Co-Founder Tunas Bangsa Camp, Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

NOTE:

  • Written by Acik Mardhiyanti
  • Photographed by Riche Mai Andriani
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse this photograph anywhere else without permissions

Kamis, 25 Januari 2018

Novi Sudah Menerima Bantuan Biaya Sekolah Bulan Januari 2018

IMG_7880[1]

Dwi Novita Sari, penyerahan biaya bantuan sekolah bulan Januari 2018

Mengawali tahun baru 2018, kami dari Tunas Bangsa Camp terus berkomitmen untuk berusaha membantu anak desa yang berasal dari keluarga kurang mampu, namun memiliki semangat sekolah. Harapan saya sebagai co-founder Tunas Bangsa Camp, agar mereka bisa meraih impian dimasa depan dan memiliki kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Di bulan Januari 2018 ini, Dwi Novita Sari (Novi saya panggil) telah menerima bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp. Seperti biasa, teman kami yang baik hati bernama Riche Mai Andriani (rekan kerja kami) selalu mendatangi rumah Novi setiap bulannya untuk memberikan bantuan biaya sekolah. Penyerahan ini disaksikan oleh orangtua Novi dikediamannya.

Setiap bulan Novi mendapatkan biaya bantuan sekolah sebesar Rp. 125.00;. Jumlah ini kami tetapkan dengan pertimbangan Novi masih duduk di bangku sekolah dasar. Jika nanti Novi sudah menginjak bangku SMP (Sekolah Menengan Pertama), maka jumlah bantuan sekolah akan meningkat seiring jenjang pendidikan yang ditempuh Novi. Mudah mudahan kami bisa terus membantu Novi.

Uang yang kami berikan tiap bulan tujuannya agar Novi bisa membeli perlengkapan atau peralatan sekolah, serta biaya sekolah lainnya. Bagaimana dengan uang saku sekolah? Tentu saja uang bantuan sekolah bulanan ini boleh dipakai untuk keperluan uang saku yang sewajarnya. Dengan begitu kami berharap bisa membantu meringankan sedikit beban orangtua Novi. Sekolah itu mahal, meskipun bersekolah disekolah negeri yang katanya “gratis”, tapi dalam kenyataannya masih banyak hal yang harus dipenuhi guna menunjang proses belajar.

Kami berharap Novi terus bersemangat untuk terus bersekolah. Memang sulit dan berat, namun mudah-mudahan jika ada kemauan keras, terus belajar dengan tekun, rajin kesekolah, pasti impian Novi akan tercapai.

Terimakasih kami ucapkan untuk Riche Mai Andriani yang telah membantu kami menyalurkan bantuan biaya sekolah. Semoga berkah selalu menyertai Riche dan keluarga.

Salam hormat saya, Co-Founder Tunas Bangsa Camp, Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

NOTE:

  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Riche Mai Andriani
  • Do not copy this article without permissions
  • Do to reuse these photographs anywhere else without permissions

Rabu, 20 Desember 2017

Penyerahan Bantuan Biaya Sekolah Untuk Dwi Novita Sari (Oktober-Desember)

Beberapa bulan tidak menulis, kali ini penulis ingin menulis sedikit tentang penyerahan dana bantuan biaya sekolah untuk Dwi Novita Sari. Siapakah Di Novita Sari bisa dibaca disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2017/07/bersemangatlah-untuk-terus-bersekolah.html Ya, seorang anak dari desa, dari keluarga tidak mampu, namun memiliki semangat sekolah, itulah Novi (panggilannya).

IMG_5293[1]

Riche Mai Andriani dan Dwi Novita Sari. Penyerahan bantuan biaya sekolah untuk Dwi Novita Sari bulan Oktober 2017, Poto dokumentasi pribadi milik Riche Mai Andriani

Setelah sebelumnya, rekan kerja kami yang berada di Lampung Timur, Riche Mai Andriani, siapakah Riche Mai Andriani baca disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2017/06/semangat-tiada-henti-untuk-terus.html sudah menyalurkan bantuan biaya sekolah pada Novi di bulan Juli, Agustus, dan September. Baca artikel sebelumnya tentang penyerahan dana bantuan tersebut disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2017/09/penyerahan-bantuan-biaya-sekolah-untuk.html Dibulan selanjutnya, yaitu Oktober, November, dan Desember, rekan kerja kami Riche telah menyerahkan bantuan biaya sekolah untuk Novi.

Ya, kami dari Tunas Bangsa Camp berkomitmen untuk terus membantu anak-anak didesa yang kurang mampu, namun memiliki semangat belajar tinggi demi menggapai masa depan yang lebih baik dan cerah gemilang. Meskipun hanya satu-dua anak saja, namun kami merasa sangat bersyukur, karena saya dan suami bisa membantu mereka. Dan kami bangga pada anak-anak desa ini, dimana mereka selalu semangat kesekolah menuntut ilmu, meskipun dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Salah satunya adalah Dwi  Novi Sari.

IMG_6218[1]

Dwi Novita Sari beserta ibu dan adik bayinya. Penyerahan bantuan biaya sekolah untuk Dwi Novita Sari bulan November 2017, Photographed by Riche Mai Andriani

Dwi Novita Sari, Novi panggilannya, meskipun masih harus membantu orangtua diladang (bekerja diladang), bahkan pulang sampai petang, Novi selalu semangat untuk belajar, rajin, dan tekun. Walaupun diusianya yang terbilang dini untuk bekerja, namun Novi masih bisa belajar. Buktinya, disemester ini dia mendapatkan peringkat 2 di kelas. Luar biasa, bukan? Kami sangat bangga padanya.

IMG_6778[1]

Dwi Novita Sari, Penyerahan bantuan biaya sekolah bulan Desember 2017, Photographed by Riche Mai Andriani

Terimakasih selalu kami ucapkan pada rekan kerja kami Riche Mai Andriani yang telah membantu kami untuk menyalurkan bantuan biaya sekolah ini. Karena mustahil tanpa bantuannya, kami bisa menjangkau Novi yang ada didesa di Lampung Timur – Indonesia sana. Untuk Novi, Selamat atas prestasinya! Terus semangat untuk belajar dan bersekolah!

Co-Founder Tunas Bangsa Camp Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Note:

  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Riche Mai Andriani – Semua poto adalah koleksi pribadi milik Riche Mai Andriani
  • Do not copy this article without permissions – Dilarang untuk men-copy paste tulisan ini tanpa seijin penulis
  • Do not reuse these photographs anywhere else without permissions – Dilarang untuk mengambil serta mempergunakan poto-poto yang ada dalam artikel ini tanpa seijin penulis dan pemilik poto

Jumat, 22 September 2017

Penyerahan Bantuan Biaya Sekolah Untuk Dwi Novita Sari

IMG_4506[1]

Photographed by Riche Mai Andriani. Penyerahan bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp untuk Dwi Novita Sari 15 September 2017

Mungkin beberapa kawan sekalian masih belum tahu, siapakah Dwi Novita Sari. Tentang siapakah Dwi Novita Sari, bisa dibaca disini  http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2017/07/bersemangatlah-untuk-terus-bersekolah.html  Sejak tahun ajaran baru ini, Dwi adalah anak penerima bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp.

Setiap bulannya, yaitu setiap tanggal 14, rekan kerja kami yang berada di Lampung Timur - Indonesia, yaitu Riche Mai Andriani, baca kisah Riche disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2017/06/semangat-tiada-henti-untuk-terus.html akan menyalurkan bantuan biaya sekolah untuk Dwi secara langsung. Yaitu mendatangi rumah orangtua Dwi. Penyerahannya disaksikan langsung oleh orangtua Dwi.

IMG_3658[1]

Dwi dan Ibunya, Chasri, Photographed by Riche Mai Andriani. Penyerahan bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp untuk Dwi Novita Sari tanggal 14 Agustus 2017

Tiap bulannya Dwi Novita Sari menerima bantuan biaya sekolah sebesar Rp. 125.000; dari Tunas Bangsa Camp. Ya, untuk anak-anak yang duduk dibangku sekolah dasar (SD), kami dari Tunas Bangsa Camp menetapkan sebesar  Rp. 125000; tiap bulannya. Dana bantuan ini langsung semuanya diberikan, karena Riche, rekan kerja kami percaya bahwa orangtua Dwi akan menggunakan dengan baik uang bantuan  biaya sekolah ini untuk keperluan Dwi sekolah, mungkin membeli peralatan tulis, sepatu, tas, atau yang lainnya.

Mudah-mudahan, bantuan biaya sekolah ini bisa meringankan sedikit beban orangtua Dwi dalam memenuhi kebutuhan sekolah Dwi, karena biaya sekolah amatlah mahal/ besar. Harapan kami dari Tunas Bangsa Camp, kami ingin anak-anak didesa seperti Dwi terus bersekolah, jangan sampai putus sekolah karena tidak mampu membiayai kebutuhan sekolah.  Kami ingin Dwi terus belajar menimba ilmu dibangku sekolah. Meskipun berasal dari desa tapi harus bersemangat sekolah dan menggapai impian dimasa depan.

IMG_2672[1]

Dwi Novita Sari menerima bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp pada tanggal 17 Juli 2017. Photographed by Riche Mai Andriani

Terimakasih kami ucapkan pada rekan kerja kami yang berada di Lampung Timur – Indonesia,  Riche Mai Andriani, yang telah membantu untuk menyalurkan bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp untuk Dwi. Semoga limpahan berkah akan selalu menyertai Riche dan keluarga.

Salam hormat saya Co-founder Tunas Bangsa Camp, Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Note:

  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Riche Mai Andriani
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse these photographs anywhere else without permissions

Selasa, 04 Juli 2017

Terus Bersekolahlah, Gapai Impianmu!

Meskipun kita bersal dari keluarga kurang mampu (miskin), berasal dari desa, namun janganlah patah semangat untuk terus bersekolah. Apapun yang terjadi, sekolahlah! Karena sekolah adalah pintu gerbang menuju masa depan yang lebih baik dan cemerlang. Penulis percaya, bahwa impian itu bisa dicapai, asal kita mau terus belajar, berusaha keras, dan jangan pernah berhenti/ menyerah.

Ditahun ajaran baru 2017 ini, kami dari Tunas Bangsa Camp sangat bersyukur, karena kami mulai bisa membantu satu anak dari Lampung-Indonesia untuk dibantu biaya sekolahnya. Anak ini adalah salah satu anak yang pintar disekolah, menurut rekan kerja kami, Riche Mai Andriani. Baca kisah guru teladan Riche Mai Andriani dari Lampung Timur-Lampung, Indonesia disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2017/06/semangat-tiada-henti-untuk-terus.html Dimana dulunya, anak ini adalah salah satu murid di TK (Taman Kanak-kanak) rintisan Riche, kawan penulis.

 

Dwi Novita Sari, Photographed by Riche Mai Andriani

IMG_2407[1]

Dwi Novita Sari bersama keluarga, Photographed by Riche Mai Andriani

Anak desa yang pintar ini bernama : Dwi Novita Sari. Kelahiran Ngestikarya, 27 November 2006. Saat ini ia bersekolah di SD Negeri 1 Ngestikarya, Lampung Timur, Provinsi Lampung-Indonesia. Dan sudah duduk dikelas 5 SD (Sekolah Dasar). Ayahnya bernama Mujiono, sedangkan ibunya bernama Chasri. Pekerjaan Orangtuanya adalah bertani. Dengan penghasilan orangtua perbulan Rp. 200.000;. Penulis tahu, sekolah negeri di Indonesia sekarang sudah gratis, bukan? Tapi sekolah membutuhkan kebutuhan lainnya, seperti buku tulis, tas, sepatu, uang saku sekolah, dan lain-lainnya, yang sudah barang tentu membutuhkan biaya (uang). Dengan penghasilan perbulan Rp. 200.000; untuk makan sehari-hari sudah kurang, tentu untuk biaya kebutuhan sekolah menjadi sangat berat.

Mudah-mudahan dengan adanya bantuan biaya sekolah untuk Dwi,  Dwi bisa lebih rajin lagi sekolahnya, dan terus semangat mengejar cita-cita dan impiannya. Jangan pernah patah semangat, apapun yang terjadi, bersekolahlah!

Sedikit catatan tambahan:

1. Ditahun 2017 ini, penerima bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp bernama Carolin Putri Anggun Pratiwi, Baca kisah Caroline disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2016/01/satu-langkah-kecil-untuk-masa-depan.html telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya. Ya, tahun 2017 ini Carolin sudah memasuki bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Untuk kelanjutan bantuan biaya sekolahnya kami belum memutuskan, apakah dilanjutkan, atau ditransfer ke adik Carolin yang saat ini duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar. Bukan karena kami tidak mau melanjutkan bantuan biaya sekolah, namun karena Carolin berpindah tempat tinggal.

2. Informasi yang kedua, adalah penerima bantuan biaya sekolah dari kami, yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat-Indonesia, Ayuni dan Rizky, baca tentang Ayuni dan Rizky disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2015/11/mari-bergandengan-tangan-selamatkan.html telah terputus bantuan biaya sekolahnya dari kami sejak April 2016. Hal ini dikarenakan  beberapa hal yang tidak bisa kami sebutkan diranah publik.

3. Informasi yang ke-3, Bahwa Iwan Kurniawan salah satu rekan kerja kami di Cirebon-Jawa Barat, Indonesia, sudah meninggal dunia. Baca kisah tentang Iwan Kurniawan salah satu guru teladan dari Cirebon-Jawa Barat, Indonesia, disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2015/11/tunas-tunas-bangsa-dari-ujung-desa.html 

Demikian informasi tambahan dari kami. Kami tahu, bahwa apa yang kami lakukan hanyalah hal kecil semata, yang mungkin dipandang orang sebelah mata. Tapi kami Tunas Bangsa Camp berprinsip, walaupun hanya sebuah langkah kecil, namun mudah-mudahan bisa memberikan setitik harapan untuk mereka (anak-anak penerima bantuan dari kami) agar mereka bersemangat untuk melangkahkan kaki kesekolah, rajin, dan giat belajar.

Mari bergandengan tangan untuk menyelamatkan pendidikan mereka, mereka anak-anak yang kurang beruntung diluar sana. Salam hormat saya co-founder Tunas Bangsa Camp, Acik Mardhiyanti.

Note :

  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy – Penulis Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Do not copy this article without permissions – Dilarang meng-copy paste artikel ini tanpa seijin penulis
  • Photographed by Riche Mai Andriani - Gambar, poto dalam article ini adalah dokumentasi sendiri milik Riche Mai Andriani
  • Do not reuse these photographs without permissions – Dilarang untuk menggunakan gambar/ poto dalam artikel ini tanpa ijin

Rabu, 28 Juni 2017

Semangat Tiada Henti Untuk Terus Berkarya

IMG_2294[1]

Riche Mai Andriani, Perintis Sekolah Pra-sekolah, Taman Kanak-kanak didaerah tempat tinggalnya, poto koleksi pribadi Riche Mai Andriani

“Talkless do more”, saya sangat suka dengan kata kata ini. Yang punya maksud kurang lebih, “jangan banyak omong tapi beraksilah secara nyata”. Dalam kehidupan ini banyak orang yang pandai berbicara,  tapi ada berapa orang kah yang mampu beraksi secara nyata untuk lingkungan sekitarnya? Ada berapa banyak orang kah yang peduli dan sensitif tentang perkara-perkara/ masalah yang ada dilingkungan sekitar? Jawabnya adalah hanya segelintir orang saja.

Bernama Riche Mai Andriani, ia adalah salah satu kawan penulis sewaktu di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas). Kawan ini termasuk salah satu anak yang rajin, dan selalu datang kesekolah lebih awal. Dalam perjalanan waktu, ada banyak cerita yang dimiliki kawan saya ini. Cerita-cerita perjalanan hidupnya sungguh inspiratif. Semangatnya yang terus hidup untuk terus berkarya, bisa memberikan manfaat untuk lingkungan sekitar dan tentu saja bisa menjadi contoh teladan bagi anak-anaknya.

IMG_2296[1]

Riche bersama sang suami, Poto koleksi pribadi Riche Mai Andriani

Setelah lulus dari bangku SMA (Sekolah Menengah Atas), Riche, kawan saya ini tidak bisa melanjutkan kebangku universitas karena ketiadaan biaya. Sedih, sakit, tentu saja itu dirasakannya. Namun ia tak patah semangat, karena tidak mampu melanjutkan kebangku universitas, maka diambilnya kursus guru TK (Taman Kanak-kanak) disalah satu kota di Provinsi Lampung-Indonesia. Dengan skill (kemampuan) yang ia dapat, setelah lulus kursus, Riche bekerja sebagai tenaga pengajar di salah satu Taman Kanak-Kanak  didaerahnya. sampai disini saja kah kisahnya, lulus SMA, ambil kursus, lulus kursus kemudian bekerja, dan terus berkeluarga (menikah)? Tentu saja tidak kawan!

Riche, kawan saya ini bercerita pada penulis, ia sudah 11 tahun merintis sekolah TK (Taman Kanak-Kanak). Wow, luar biasa, speechless (tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata/ kehabisan kata-kata). Bukan waktu yang singkat dan mudah untuk merintis sesuatu, bukan? Merintis sebuah sekolah, tentu bukan perkara mudah. Tentu ada banyak perjuangan dilakukan, dan butuh ketetapan hati serta kekuatan hati untuk melakukannya. Semua itu ia jalani, dan sekarang sudah 11 tahun berjalan. Luar biasa, bukan? Lantas apa yang mendasarinya untuk melakukan semua itu?

IMG_2297[1]

Riche bersama putri tercinta, Regina. Poto koleksi pribadi Riche Mai Andriani

Hal pertama yang diungkapkan Riche, ketika penulis tanya apa yang motivasi dan mendorongnya, dan kenapa merintis sekolah TK (Taman Kanak-kanak) adalah, karena dilingkungan tempat tinggalnya belum ada sekolah TK (Taman Kanak-kanak). Menarik, bukan? Sebegitu sensitifnya/ peduli dengan lingkungan sekitar, dan mengerti tentang permasalahan dilingkungan tempat tinggalnya. Penulis yakin, tidak banyak orang yang seperti ini, mengerti tentang keadaan sekitar dan tahu apa yang harus dilakukan untuk membangun lingkungannya agar masyarakatnya menjadi maju.

Alasan kedua yang ia ungkapkan ialah, karena merasa memiliki ilmu dalam dunia pendidikan sekolah Taman Kanak-kanak, makanya Riche ingin merintis sekolah TK (Taman Kanak-kanak). Alasan ini juga menarik untuk penulis. Kenapa? Banyak sekali orang-orang diluar sana menempuh pendidikan, sekolah, dapat ijazah, dan bekerja. Benar memang, sekolah tinggi, lulus kemudian bekerja. Tapi tujuannya titik hanya sampai disitu? Sekolah untuk dapat ijazah agar bisa mendapat pekerjaan layak dan hidup layak? Dalam segi kacamata penulis, kita bersekolah bukan hanya untuk mendapat gelar semata, tapi ada peran yang harus kita jalankan untuk melakukan sesuatu hal bermanfaat, minimal untuk lingkungan sekitar. Peran apakah itu? Apa sih yang bisa kita berikan, atau apa sih sumbangsih kita, apa yang bisa kita lakukan untuk sedikit meringkankan permasalahan yang ada dalam masyarakat dan untuk lingkungan sekitar kita. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, contohnya, merintis perpustakaan, bisa, merintis sekolah, bisa, memberikan les gratis untuk anak-anak, juga bisa, merintis komunitas berkebun dengan mengajak keluarga dan orang sekitar bercocok tanam dirumah, bisa juga. Pada intinya ada banyak sekali hal positif dan bermanfaat, yang bisa kita tularkan untuk lingkungan sekitar, atau lingkungan dimana kita berada.

IMG_2300[1]

Riche bersama putra tercinta, M. Raga Lanika. Poto koleksi pribadi Riche Mai Andriani

Yang ketiga, Riche berkata dalam tanya-jawab singkat, bahwa ia ingin anak-anak pra-sekolah mendapatkan pendidikan selayaknya sebelum mereka memasuki bangku sekolah dasar. Tujuan yang sangat mulia, bukan? Disaat banyak orang hanya memikirkan diri sendiri, seorang Riche Mai Andriani memikirkan nasib anak-anak dilingkungan sekitarnya yang belum mendapatkan pendidikan pra-sekolah,karena belum adanya sekolah Taman Kanak-kanak. Dimana anak-anak ini nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Dan saat itu murid tahun pertama Riche berjumlah 17 orang, dengan tarif SPP (biaya sekolah) hanya Rp. 7000;.

Gerak langkah kawan saya ini tidak sampai disitu saja, dalam usahanya merintis sekolah Taman Kanak-kanak, Riche berusaha mengejar pendidikannya. Ditahun 2006, ia mengambil sekolah D2 (Diploma). Setelah lulus, selang beberapa tahun kemudian, Riche melanjutkan sekolahnya kejenjang yang lebih tinggi. Dan ditahun 2013 ia telah menyelesaikan pendidikan S1 (strata 1). Luar biasa, sangat inspiratif dan bisa menginspirasi siapa saja yang mendengar maupun membaca kisah ini.

Kemudian, penulis-pun bertanya-tanya, apa sih yang mendorong atau memotivasi seorang Riche untuk terus melanjutkan pendidikannya, meskipun ia telah berkeluarga? Ia memeliki beberapa alasan kuat untuk hal ini. Hal utama yang ingin ia raih adalah agar mendapatkan ilmu, tentu saja dengan bersekolah dan bersekolah lagi, ilmu yang kita miliki akan semakin bertambah, dan bertambah, bukan?! Kedua ialah, bahwa saat ini untuk menjadi guru sekolah Taman Kanak-kanak, harus seorang sarjana (Strata 1). Saya pikir hal ini wajar, karena jaman semakin berkembang dan semakin maju, maka seorang guru haruslah seorang yang memiliki tingkat pendidikan minimal Strata 1. Alasan terakhir, Riche mengungkapkan, ia berharap agar kedepan bisa lebih diperhatikan oleh pemerintah. Mudah-mudahan, penulis doakan semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan guru-guru teladan seperti Riche ini.

Dari semua hal yang telah dilakukan Riche, ternyata ia masih menyimpan satu keinginan lainnya. Dan hal itu membuat penulis kagum, sekaligus bangga padanya. Hal lain yang ingin ia lakukan adalah ia ingin memiliki toko, ingin membuka toko untuk menambah pemasukan keluarga. Yang intinya ia ingin mempersiapkan anak-anaknya sebaik mungkin dibidang pendidikan dengan menyekolahkannya disekolah yang bagus, serta menabung untuk masa tua. Sebuah rencana masa depan yang cemerlang, dan patut dicontoh bagi para orangtua-orangtua muda/ baru, agar sudah mempersiapkan tabungan pendidikan untuk anak-anak kelak agar  mereka bisa sekolah disekolah yang bagus. Karena memang semakin tinggi tingkat pendidikan maka biaya akan semakin tinggi pula, apalagi bila ingin memasukkan kesekolah terbaik, tentu biayanya tidaklah murah. Tabungan hari tua yang disinggung Riche juga tidaklah kalah penting. Yang tentu saja tujuan menabung untuk hari tua adalah agar tidak membebani anak-cucu dikemudian hari. Tabungan hari tua bisa dibidang apa saja, sesuai dengan apa yang kita minati dan kita kuasai/ mengerti. Ayoo, bagi kawan sekalian yang belum mikirkan tabungan untuk hari tua, mulai sekaranglah menabung untuk hari tua. Jadi selain mempersiapkan biaya pendidikan anak, kita juga harus mempersiapkan tabungan kita sendiri untuk hari tua. Orang Jepang bilang, “Ganbatte!”.

Itulah cerita dari salah satu kawan penulis yang sangat inspiratif dan patut diteladani. Kita bisa mencontoh semangatnya untuk terus berkarya dalam hidup ini. Ada pribahasa berkata, “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. Mari terus belajar, dan belajar, jangan pernah berhenti berkarya dalam hidup, dan memberikan manfaat baik/ positif untuk lingkungan sekitar (minimal), agar kelak kita dikenang karena sebuah hasil karya. Indah bukan..?

Terakhir, penulis ucapkan selamat bergabung dengan Tunas Bngsa Camp untuk Riche Mai Andriani. Mari bersama-sama bergandengan tangan menyelamatkan pendidikan mereka, anak-anak yang kurang beruntung diluar sana. Terima kasih, Co-founder Tunas Bangsa Camp, Acik Mardhiyanti

Note:

  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy – Penulis Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Do not copy this article without permissions – Tidak diperkenankan/ tidak diijinkan untuk meng-copy paste tulisan ini tanpa seijin penulis
  • Do not reuse these photographs anywhere else without permissions – Poto-poto dalam artikel ini adalah koleksi pribadi Riche Mai Andriani, dilarang menggunakan poto-poto dalam artikel ini tanpa ijin penulis dan pemilik poto/ gambar

Jumat, 11 Maret 2016

Perjalanan Panjang Tunas Bangsa Camp

Apa itu Tunas Bangsa Camp? Tunas Bangsa Camp adalah sebuah keinginan/ harapan dari beberapa orang untuk bisa membangun anak-anak pedesaan, dengan cara mengajak mereka membaca, dan memberikan bantuan sekolah. Untuk menyebutkan bahwa ini adalah sebuah foundation, aahh rasanya belum pantas bila kata “Foundation” itu disematkan untuk Tunas Bangsa Camp. Apa yang kami lakukan hanyalah sebentuk aksi kecil, memberikan sumbangsih kami demi kemajuan anak-anak desa.

Seperti yang telah saya katakan diatas, bahwa Tunas Bangsa Camp adalah sebuah keinginan/ harapan. Pada awal mulanya, kurang lebih tiga tahun lalu saya terhubung kembali dengan seorang kawan semasa menempuh pendidikan SMA (Sekolah Menengah Tingakat Atas), Nyariati Handayani. Cerita-ceritapun bergulir, dari situ saya tahu bahwa kawan saya itu adalah seorang pendidik, yaitu guru. Dari situ, kami berisiatif untuk mencoba/ merintis sebuah perpustakaan dengan tujuan agar anak-anak didesa bisa menjamah buku-buku. Maka sejak itulah Tunas Bangsa Camp berdiri, dengan awal mula bernama Taman Baca Tunas Bangsa Dayamurni. Baca disini http://www.kompasiana.com/acikmdy/berikan-satu-buku-saja-agar-mereka-melihat-dunia_55293d1af17e61aa518b458c

Jika dibandingkan dengan perpustakaan-perpustakaan pada umumnya, maka perpustakaan yang kami rintis ini jauh dari standard sebuah perpustakaan. Buku-buku yang kami punya sangat minim, fasilitas yang ada juga seadanya. Sedikit demi sedikit kami mengumpulkan buku-buku yang dibeli dengan merogoh kantong kami sendiri. Dan tak segan kami juga meminta bantuan buku-buku pada kawan-kawan kami (meski sampai sekarang kawan-kawan itu belum ada yang memberi sumbangan buku). Tak patah semangat, ditahun 2013 itu kami mencoba meminta bantuan buku pada NLB (National Library Board Singapore). Puji syukur, NLB memberikan 100 buku untuk kami. Baca disini kisahnya http://www.kompasiana.com/acikmdy/national-library-board-singapore-donasi-100-buku-untuk-perpustakaan-kampung-kami_552e3e2d6ea8343f298b4590 

Saat itu anak-anak yang datang di Taman Baca kami sangat bergembira. Terkadang mereka sembari membaca juga mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Baca kisahnya disini http://www.kompasiana.com/acikmdy/geliat-perpustakaan-kampung-di-tengah-keterbatasan_551fbd5d813311bf199df97c  Namun, seiring dengan berjalannya waktu, anak-anak sudah tidak mau datang kembali, entah karena berbagai macam kegiatan sekolah atau dikarenakan hal lainnya. Tapi, meski begitu saya pribadi masih akan mengusahakan/ membesarkan perpustakaan yang sedang kami rintis ini. Tidak mudah memang, banyak sekali halangan serta rintangannya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun yang pasti, niat ini akan tetap kami pupuk untuk mewujudkannya, karena untuk Tunas Bangsa Camp, merintis perpustakaan ini masuk dalam rencana jangka panjang kami.

Meskipun saat itu taman baca/perpustakaan kami di Dayamurni-Lampung sepi, namun kami (saya dan suami) tetap mencari ide maupun gagasan untuk bisa mengumpulkan dana bagi Tunas Bangsa Camp. Ide/ gagasan yang kami sepakati adalah dengan membuat software yang kemudian dijual secara gratis, dengan catatan bagi siapa saja yang menggunakan software itu, maka ia  dengan sukarela memberikan sumbangan/ donasi untuk Tunas Bangsa Camp. Dan software ini telah kami launching tahun lalu. Selain itu, kami juga masih mengirimkan beberapa buku ke Dayamurni-Lampung dikala kami sedang berada di Indonesia dan memiliki waktu luang untuk berbelanja buku. Karena diwaktu itu, untuk berbelanja buku online disalah satu toko buku ternama di Indonesia, belum melayani pembelian dari luar negeri. Dan kami bersyukur, sekarang toko buku itu melayani pembelian dari luar negeri.

Setelah kurang lebih dua tahun perjalanan Tunas Bangsa Camp, bulan November tahun 2015, Tunas Bangsa Camp memulai program baru, yaitu memberikan bantuan biaya sekolah untuk anak-anak kurang mampu/ miskin. Hal ini diawali dari komunikasi saya dengan seorang kawan semasa menempuh pendidikan S1 (Strata 1) dikota Yogyakarta-Indonesia, yaitu Iwan Kurniawan, Baca kisahnya disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2015/11/tunas-tunas-bangsa-dari-ujung-desa.html Saat ini ada 3 orang anak penerima bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp, 2 orang anak dari Cirebon-Jawa Barat, dan 1 orang anak dari Dayamurni-Lampung. Mudah-mudahan dana yang terkumpul ke Tunas Bangsa Camp lancar, sehingga disemester depan kami bisa menambah satu anak lagi untuk dibiayai sekolahnya. Selain itu, kami juga sedang merintis perpustakaan di desa Babakan-Cirebon, yang ditempatkan di rumah rekan kerja kami, Iwan Kurniawan.

Saat ini Tunas Bangsa Camp memiliki program baru. Program ini baru dimulai bulan Januari tahun 2016 lalu. Pertama adalah program spesial, dan kedua adalah program spontan. Program spesial ini adalah sebuah program dari Tunas Bangsa Camp, dimana kami akan memberikan reward/ hadiah kepada anak-anak penerima bantuan biaya sekolah dari Tunas Bangsa Camp. Bilamana mereka bisa mendapatka nilai 8, maka reward itu sebesar Rp. 10.000 untuk setiap angka 8 pada buku hasil studi, nilai 9 reward-nya sebesar Rp. 15.000; dan angka 10 (sempurna) reward-nya sebesar Rp. 20.000; untuk tiap angka 10. Dan ini berlaku untuk semua mata pelajaran disekolah mereka masing-masing. Sementara itu,  untuk program spontan ini akan diberikan bagi anak-anak yang mampu menunjukkan prestasinya diluar sekolah, misal memenangkan perlombaan. Untuk program spesial dan program spontan ini bisa dibaca disini http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2016/02/spesial-program-dari-tunas-bangsa-camp.html

Seperti yang sudah saya katakan diawal paragraf, bahwa ini adalah sebentuk aksi kecil saja untuk bisa memberikan sedikit sumbangsih kami bagi kemajuan anak-anak didesa. Kami mempunyai harapan besar pada anak-anak didesa, kami ingin anak-anak didesa juga memiliki kemauan untuk belajar, membaca dan bersekolah. Meskipun berasal dari desa, namun bukan berarti pupus masa depan dan cita-citanya. Justru berasal dari desa, anak-anak desa harus bersemangat dan bekerja keras untuk mencapai cita-citanya, yang disertai dengan niat dan kesungguhan. Itulah harapan dari kami.

Terimakasih kami ucapkan pada para donatur yang telah memberikan sumbangannya. Bagi kawan-kawan sekalian yang hendak memberikan sumbangan,  Silahkan buka blog kami untuk melihat kriteria donasi http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/

Salam hormat saya Co-Founder Tunas Bangsa Camp

Acik Mardhiyanti

Catatan :

  • Penulis Acik Mdy / Acik Mardhiyanti
  • Dilarang meng-copy paste artikel ini

Rabu, 02 Maret 2016

Team O2SN Dari Dayamurni Membawa Pulang Banyak Piala

IMG-20160302-WA0001

Apa itu O2SN? O2SN adalah singkatan dari Olimpiade Olahraga Siswa Nasional. Tahun ini anak didik Nyariati Handayani (rekan kerja kami di Dayamurni-Indonesia) mengikuti O2SN tahun 2016, setelah tahun sebelumnya juga telah mengikuti O2SN. Dijadwalkan sebelumnya, O2SN akan dilaksankan pada tanggal 14 Januari 2016, namun ternyata diundur menjadi tanggal 27 Februari 2016. Dan ternyata penyelenggaraan O2SN diundur lagi ke-tanggal 2 Maret 2016. Inilah seputar kisahnya.

Seperti yang telah dikisahkan Nyariati Handayani sebelumnya, ditahun ini, anak-anak O2SN akan mengikuti beberapa cabang pertandingan olahraga, yaitu catur, bola mini, atletik, tenis, dan bulu tangkis. Sebenarnya ada 11 cabang olahraga yang dipertandingkan dalam O2SN, namun untuk renang, voli, karate dan silat, dari SD (sekolah dasar) Negeri 1 Dayamurni tidak memiliki bibitnya, begitu menurut penuturan Nyariati. Jika pada tahun sebelumnya team O2SN Nyariati Handayani ini mampu sampai ketingkat kabupaten, dan belum berhasil mencapai tingkat provinsi. Nah, untuk tahun 2016 ini diharapkan mampu untuk mencapai tingkat provinsi. Kita doakan bersama, semoga anak-anak ini mampu mengukir prestasi dibidang olahraga sampai ketingkat provinsi.

Meskipun untuk pelaksanaan O2SN tahun 2016 ini tidak mengirimkan anak untuk beberapa  cabang olahraga yang dipertandingkan, tetapi team O2SN Nyariati ini dilatik dan disiapkan dengan sebaik-baiknya untuk setiap cabang yang diikuti. Terutama dilatih fisik dan mentalnya. Alasannya, bahwa pada dasarnya anak-anak mampu (bisa menang) hanya mentalnya kurang siap, sehingga down (tingkat kepercayaan diri berkurang) duluan sebelum bertanding, yang pada akhirnya kalah dalam pertandingan. Oleh karenanya, menyiapkan mental itu sangat penting sekali, untuk membangkitkan rasa kepercayaan diri anak-anak sebelum pertandingan.

Nah, ada berapa piala yang berhasil dibawa pulang oleh anak didik Nyariati, semuanya ada 7 piala. Satu juara 3 cabang olahraga Tenis, Juara 3 untuk bola kaki, juara 1 untuk catur, juara 1 untuk cabang bulutangkis putra, dan juara 1 untuk cabang atletik kids putra-putri. Wah, selamat! Dan atas keberhasilannya ini, ada 5 orang anak didik Nyariati yang akan mengikuti pertandingan selanjutan ditingkat kabupaten yang akan dilaksanakan pada bulan April mendatang (bila tidak ada perubahan jadwal). Semoga mereka bisa membawa pulang piala lagi, dan masuk ketingkat provinsi…amiin…!

Untuk menghadapi pertandingan selanjutnya dibulan April mendatang, tentu saja anak-anak team O2SN dari SD N (sekolah dasar negeri) 1 Dayamurni  dibawah asuhan Nyariati Handayani, akan dipersiapkan kembali, dilatih kekuatan fisik, mental, dan terus berlatih sampai hari pertandingan tiba. Bekerja keras, demi membawa nama baik sekolah. Selain itu, untuk menunjukkan bahwa meskipun berasal dari sebuah sekolah didaerah (desa), tetapi tetap memiliki prestasi yang membanggakan. Maju terus, dan berjuanglah!

IMG-20160302-WA0002

Kami dari Tunas Bangsa Camp mengucapkan selamat atas keberhasilannya ini. Dengan perjuangan dan berlatih keras, sungguh sangat membahagiakan dan sangat membanggakan dengan membawa hasilnya berupa piala. Kami sangat bangga atas prestasi kalian semua. Terus bersemangat, dan terus berjuang keras.

Bagi kawan-kawan sekalian yang hendak memberikan sumbangan/ donasi silahkan buka blog kami untuk melihat detail kriteria donasi, http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/

Artikel sebelumnya, http://tunas-bangsa-camp.blogspot.sg/2016/02/spesial-program-dari-tunas-bangsa-camp.html

Terimakasih, Co-Founder Tunas Bangsa Camp Acik Mardhiyanti

Catatan :

  • Penulis Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti
  • Gambar/photo dalam artikel ini adalah dokumetasi Nyariati Handayani
  • Dilarang untuk meng-copy paste artikel/ tulisan ini tanpa ijin
  • Tidak diperkenankan untuk menggunakan photo dalam artikel ini tanpa ijin.

Selasa, 01 Maret 2016

Profit for February 2016

Hi readers we would like to inform you that we have received monthly statement for Donation Box that is for February 2016. The profit for February 2016 is as below.

US$ 73.2821 x 50% = US$ 36.64

image

We have not withdrawn the profit yet. But we will let you know again once withdrawal process is finished. Thank you for your great support!